Jakarta, 4 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto mengangkat kesamaan nilai budaya Indonesia dan Rusia ketika berpidato sebagai tamu kehormatan utama dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia. Di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin serta para pemimpin dan delegasi negara lain, Prabowo mengutip pepatah Rusia “Odin v pole ne voin” yang menggambarkan pentingnya kebersamaan dalam mencapai sebuah tujuan. Pepatah tersebut pada dasarnya memiliki makna bahwa seseorang tidak akan memperoleh kemenangan apabila berjuang seorang diri. Prabowo kemudian menghubungkan pesan itu dengan konsep gotong royong yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Menurutnya, beban yang sangat berat dapat menjadi lebih ringan apabila dipikul bersama-sama. Kesamaan filosofi tersebut digunakan Prabowo untuk menunjukkan bahwa Indonesia dan Rusia memiliki nilai kebersamaan yang dapat menjadi landasan memperkuat hubungan kedua negara.
Prabowo menilai perbedaan bahasa maupun latar belakang budaya tidak menghalangi dua bangsa memiliki kebijaksanaan yang serupa. Indonesia dan Rusia menurutnya sama-sama mewarisi pemahaman dari generasi terdahulu mengenai pentingnya kerja sama ketika menghadapi persoalan besar. Nilai tersebut dinilai semakin relevan di tengah kondisi dunia yang menghadapi berbagai tantangan ekonomi, geopolitik, pangan, energi, dan perubahan rantai pasok. Tidak ada negara yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan tersebut hanya dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Kerja sama diperlukan agar masing-masing pihak dapat memanfaatkan keunggulan dan sumber daya yang dimiliki untuk menciptakan manfaat bersama. Prabowo menggunakan kesamaan filosofi tersebut sebagai jembatan untuk membawa pembicaraan menuju kerja sama konkret antara Indonesia dan Rusia.
Konsep gotong royong sendiri memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia dan menggambarkan kebiasaan menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama. Prinsip tersebut tidak hanya berlaku dalam kehidupan masyarakat pada tingkat lokal, tetapi juga dapat diterapkan dalam hubungan antarnegara. Prabowo menilai kerja sama internasional idealnya dibangun berdasarkan kepentingan yang saling menguntungkan dan bukan hubungan yang hanya memberikan manfaat kepada satu pihak. Negara dapat memiliki kemampuan berbeda, tetapi perbedaan tersebut justru dapat menjadi dasar untuk saling melengkapi. Dalam konteks Indonesia dan Rusia, terdapat berbagai bidang yang dapat dikembangkan melalui pendekatan tersebut. Hubungan ekonomi, perdagangan, investasi, teknologi, energi, pangan, dan konektivitas menjadi beberapa sektor yang dinilai memiliki ruang besar untuk diperluas.
Prabowo kemudian menghubungkan semangat kebersamaan tersebut dengan hubungan Indonesia dan Rusia yang telah terjalin selama puluhan tahun. Hubungan kedua negara memiliki sejarah panjang sejak masa awal Republik Indonesia ketika Uni Soviet memberikan dukungan terhadap berbagai pembangunan nasional. Namun Prabowo menegaskan persahabatan tidak dapat hanya hidup melalui kenangan sejarah. Generasi saat ini memiliki tanggung jawab menulis babak baru dengan mengubah hubungan baik tersebut menjadi kerja sama yang menghasilkan manfaat nyata. Hubungan personal maupun kedekatan diplomatik perlu berkembang menjadi hubungan yang semakin terlembaga melalui berbagai kesepakatan ekonomi dan proyek bersama. Dengan demikian, persahabatan dapat diukur berdasarkan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat kedua negara dan bukan sekadar banyaknya pertemuan tingkat tinggi.
Salah satu bidang yang mendapatkan perhatian adalah perdagangan antara Indonesia dan Rusia serta hubungan ekonomi dengan kawasan Eurasia. Pemerintah Indonesia melihat masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan arus barang dan investasi karena potensi ekonomi kedua pihak belum dimanfaatkan secara maksimal. Penyelesaian berbagai mekanisme perdagangan diharapkan dapat membantu menurunkan hambatan dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk masing-masing negara. Indonesia memiliki berbagai komoditas dan produk manufaktur yang dapat dipasarkan menuju Rusia maupun negara Eurasia lainnya. Sebaliknya, Rusia memiliki kemampuan pada sektor energi, teknologi, industri, pupuk, serta berbagai bidang strategis yang dapat mendukung kebutuhan pembangunan Indonesia. Kerja sama yang berkembang secara seimbang diharapkan menghasilkan nilai tambah bagi kedua perekonomian.
Konektivitas juga menjadi bagian penting karena hubungan perdagangan membutuhkan jalur transportasi yang efisien. Prabowo mendorong penguatan rute pelayaran dan penerbangan langsung yang dapat memperpendek hubungan antara kedua negara. Infrastruktur transportasi yang lebih baik dapat membantu mempercepat pergerakan barang, wisatawan, pelaku usaha, dan investasi. Koridor logistik yang efisien juga berpotensi menurunkan biaya perdagangan sehingga produk kedua negara memiliki daya saing lebih tinggi. Selain konektivitas fisik, kerja sama sistem pembayaran turut menjadi perhatian karena transaksi ekonomi membutuhkan mekanisme yang aman dan dapat digunakan secara berkelanjutan. Berbagai unsur tersebut harus dikembangkan secara bersama agar peningkatan hubungan perdagangan memiliki dukungan infrastruktur yang memadai.
Dalam forum tersebut, Prabowo menekankan bahwa berbagai pembicaraan mengenai tarif, perdagangan bebas, koridor transportasi, sistem pembayaran, dan proyek industri pada akhirnya harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Pemerintah tidak ingin keberhasilan kerja sama internasional hanya dinilai berdasarkan jumlah dokumen atau kesepakatan yang ditandatangani. Dampaknya harus terlihat melalui terciptanya pekerjaan, meningkatnya pendapatan, berkembangnya usaha, dan semakin baiknya masa depan keluarga. Prabowo menggambarkan tujuan tersebut melalui kehidupan masyarakat biasa, termasuk nelayan di Indonesia maupun pekerja industri di Rusia. Mereka harus dapat melihat bahwa hubungan ekonomi kedua negara memberikan peluang kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Pendekatan tersebut menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai ukuran utama keberhasilan diplomasi ekonomi.
Semangat “Odin v pole ne voin” juga digunakan untuk menggambarkan pandangan Indonesia terhadap kondisi global yang semakin terfragmentasi. Persaingan antarnegara, perubahan rantai pasok, penggunaan kebijakan perdagangan sebagai instrumen geopolitik, serta terbentuknya kelompok ekonomi baru membuat kerja sama internasional menghadapi tantangan semakin kompleks. Prabowo menilai kondisi tersebut justru menjadi alasan untuk memperbanyak jembatan kerja sama daripada membangun pemisah. Indonesia mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif dan ingin membangun hubungan baik dengan berbagai pihak tanpa harus menjadi bagian dari pertentangan antarblok. Kerja sama ekonomi dapat dilakukan dengan negara mana pun sepanjang memberikan manfaat yang adil dan tidak mengorbankan kepentingan nasional. Posisi tersebut memungkinkan Indonesia mempertahankan hubungan dengan Rusia sekaligus terus bekerja sama dengan negara-negara lainnya.
Prabowo juga mendorong agar hubungan Indonesia dan Rusia berkembang menuju proyek strategis yang dapat direalisasikan secara nyata. Kerja sama produksi pangan, pupuk, energi, obat-obatan, teknologi, serta sektor industri menjadi beberapa bidang yang memiliki peluang untuk dikembangkan. Pembiayaan menjadi unsur penting sehingga lembaga investasi kedua negara dapat mengambil peran dalam mendukung proyek yang dinilai memiliki manfaat strategis. Pemerintah berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada tahap perencanaan, tetapi menghasilkan kegiatan ekonomi yang dapat menciptakan pekerjaan dan memperkuat kapasitas produksi. Transfer pengetahuan dan teknologi juga menjadi bagian penting agar investasi memberikan manfaat jangka panjang bagi pengembangan sumber daya manusia. Prinsip gotong royong kemudian diterjemahkan menjadi pembagian manfaat dan tanggung jawab yang lebih seimbang antara pihak-pihak yang bekerja sama.
Kesamaan filosofi antara pepatah Rusia “Odin v pole ne voin” dan gotong royong pada akhirnya digunakan Prabowo untuk menyampaikan pesan yang lebih luas mengenai arah hubungan Indonesia dan Rusia. Kedua negara dinilai memiliki warisan nilai yang sama mengenai kekuatan kebersamaan meskipun berasal dari sejarah, bahasa, dan budaya berbeda. Prabowo ingin nilai tersebut tidak hanya menjadi simbol dalam pidato, tetapi diterjemahkan melalui perdagangan, investasi, konektivitas, sistem pembayaran, pangan, energi, teknologi, dan berbagai proyek industri. Hubungan yang telah terbangun selama puluhan tahun juga diharapkan memasuki fase baru yang lebih berorientasi pada hasil konkret bagi masyarakat. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, Indonesia memilih mempertahankan pendekatan kerja sama dan membangun hubungan dengan sebanyak mungkin negara. Pesan yang dibawa Prabowo dari panggung EEF ke-11 menegaskan bahwa tantangan besar akan lebih mudah dihadapi ketika negara-negara memilih bekerja bersama daripada berjuang sendiri-sendiri.







