Jakarta, 25 Mei 2026 – Sistem irigasi tradisional Subak di Bali yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia kini menghadapi ancaman serius akibat berbagai tekanan modernisasi dan perubahan tata ruang. Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan wisata, permukiman, hingga fasilitas komersial disebut menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat penyusutan area sawah di Pulau Dewata. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena Subak bukan sekadar sistem pengairan, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya, kehidupan sosial, dan filosofi masyarakat Bali. Sejumlah petani mengaku semakin sulit mempertahankan lahan pertanian di tengah meningkatnya nilai ekonomi sektor pariwisata dan pembangunan. Jika situasi terus berlangsung tanpa pengendalian, keberlangsungan sistem Subak dikhawatirkan akan semakin terancam di masa mendatang.
Subak selama ratusan tahun dikenal sebagai sistem pengelolaan air berbasis komunitas yang mengatur distribusi irigasi secara adil bagi para petani. Sistem ini tidak hanya mengandalkan aspek teknis pertanian, tetapi juga mengandung nilai spiritual dan kearifan lokal yang berakar pada filosofi Tri Hita Karana, yakni keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Namun perkembangan pembangunan di Bali membuat banyak lahan sawah beralih fungsi karena dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi. Selain itu, generasi muda di sejumlah daerah mulai enggan melanjutkan profesi sebagai petani karena pendapatan yang dinilai kurang menjanjikan dibanding sektor lain. Akibatnya, jumlah petani dan kawasan pertanian tradisional terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Pengamat lingkungan dan budaya menilai ancaman terhadap Subak tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekologis dan budaya Bali secara keseluruhan. Berkurangnya sawah dan rusaknya jalur irigasi tradisional dapat memengaruhi ketahanan pangan lokal serta memperbesar risiko gangguan lingkungan seperti banjir dan kekeringan. Selain itu, hilangnya Subak juga berarti hilangnya salah satu warisan budaya yang selama ini menjadi daya tarik khas Bali di mata dunia. Karena itu, berbagai pihak mendorong pemerintah daerah memperkuat perlindungan terhadap lahan pertanian produktif dan kawasan budaya tradisional. Regulasi tata ruang yang lebih ketat dinilai penting agar pembangunan tidak mengorbankan keberlanjutan sistem Subak.
Di sisi lain, sejumlah komunitas petani dan pegiat budaya terus berupaya menjaga keberlangsungan Subak melalui berbagai program edukasi dan pelestarian. Beberapa desa mulai mengembangkan konsep wisata berbasis pertanian dan budaya lokal agar sistem Subak tetap memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat setempat. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat generasi muda kembali tertarik mempertahankan tradisi pertanian Bali tanpa harus meninggalkan peluang ekonomi modern. Pemerintah juga didorong memberikan insentif dan dukungan teknologi bagi petani agar sektor pertanian tetap kompetitif di tengah perubahan zaman. Dengan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku pariwisata, pelestarian Subak dinilai masih memiliki peluang untuk dipertahankan.
Hingga kini, isu keberlangsungan Subak terus menjadi perhatian karena menyangkut masa depan budaya dan lingkungan Bali dalam jangka panjang. Banyak pihak berharap pembangunan di Pulau Dewata dapat berjalan lebih seimbang tanpa menghilangkan identitas lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Pelestarian Subak dinilai bukan hanya tanggung jawab petani, tetapi juga seluruh elemen masyarakat yang menikmati manfaat budaya dan alam Bali. Dengan kebijakan yang tepat dan kesadaran kolektif yang lebih kuat, sistem irigasi tradisional tersebut diharapkan tetap bertahan di tengah tekanan modernisasi yang terus berkembang. Masa depan Subak kini menjadi ujian besar bagi Bali dalam menjaga harmoni antara pembangunan ekonomi dan pelestarian warisan budaya.





