Jakarta, 26 Mei 2026 – Perjalanan puluhan biksu Thudong yang melakukan ritual jalan kaki dari Bali menuju kawasan Jawa Tengah menjadi perhatian publik setelah rombongan diketahui melanjutkan sebagian perjalanan menggunakan bus saat tiba di wilayah Klaten. Sebanyak 58 biksu yang sebelumnya menjalani perjalanan spiritual dengan berjalan kaki itu tetap disambut antusias masyarakat di berbagai daerah yang mereka lewati. Namun muncul pertanyaan dari sebagian warga mengenai alasan rombongan tidak sepenuhnya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga tujuan akhir. Situasi tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial dan memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Meski demikian, pihak pendamping perjalanan menjelaskan bahwa penggunaan bus dilakukan karena mempertimbangkan kondisi teknis dan kesehatan para peserta.
Tradisi Thudong sendiri merupakan praktik spiritual dalam ajaran Buddha yang dilakukan dengan berjalan kaki menempuh perjalanan jauh sebagai bentuk latihan kesederhanaan, disiplin, dan pengendalian diri. Selama perjalanan, para biksu biasanya mengandalkan bantuan masyarakat untuk kebutuhan makan dan tempat beristirahat. Rombongan yang melakukan perjalanan dari Bali menuju Jawa Tengah ini diketahui telah menempuh jarak panjang selama beberapa pekan sebelum tiba di wilayah Klaten. Dalam perjalanannya, mereka juga sempat menjadi perhatian warga karena banyak masyarakat yang memberikan dukungan dan sambutan di sepanjang jalur yang dilalui. Namun ketika diketahui sebagian rute dilanjutkan menggunakan bus, muncul diskusi mengenai fleksibilitas pelaksanaan ritual tersebut di tengah kondisi lapangan yang berbeda-beda.
Pendamping rombongan menjelaskan bahwa keputusan menggunakan kendaraan dilakukan bukan untuk menghilangkan makna spiritual perjalanan, melainkan sebagai penyesuaian terhadap kondisi tertentu seperti faktor keselamatan, cuaca, dan keterbatasan fisik peserta. Mereka menyebut perjalanan panjang lintas pulau dengan jumlah peserta yang besar membutuhkan pengaturan yang lebih fleksibel agar seluruh rangkaian kegiatan tetap dapat berjalan lancar. Selain itu, jadwal kegiatan keagamaan yang telah ditentukan juga menjadi pertimbangan dalam pengaturan perjalanan rombongan. Pihak pendamping menegaskan bahwa inti utama dari tradisi Thudong tetap terletak pada latihan spiritual, disiplin hidup sederhana, dan perjalanan batin yang dijalani para biksu. Karena itu, penggunaan kendaraan di titik tertentu disebut tidak menghilangkan nilai utama dari praktik tersebut.
Pengamat budaya dan keagamaan menilai masyarakat perlu memahami bahwa tradisi spiritual sering kali mengalami penyesuaian sesuai konteks zaman dan kondisi lapangan. Dalam praktik modern, perjalanan keagamaan berskala besar memang kerap membutuhkan dukungan logistik demi menjaga keselamatan dan kesehatan peserta. Mereka juga menilai perhatian publik terhadap perjalanan para biksu menunjukkan tingginya rasa hormat masyarakat terhadap kegiatan spiritual lintas agama di Indonesia. Di sisi lain, keterbukaan informasi mengenai alasan penggunaan kendaraan dianggap penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Edukasi mengenai makna sebenarnya dari tradisi Thudong juga dinilai perlu diperkuat agar publik tidak hanya fokus pada aspek simbolik perjalanan fisik semata.
Hingga kini, perjalanan para biksu Thudong tetap mendapat sambutan hangat dari masyarakat di berbagai daerah yang mereka lalui. Banyak warga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberikan dukungan dan melihat langsung prosesi spiritual yang jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Meski sempat menjadi perbincangan di media sosial, perjalanan tersebut tetap berlangsung dalam suasana damai dan penuh penghormatan. Para biksu diharapkan dapat menyelesaikan rangkaian perjalanan spiritual mereka dengan lancar hingga mencapai tujuan akhir. Momentum ini juga kembali memperlihatkan kuatnya toleransi dan perhatian masyarakat Indonesia terhadap tradisi keagamaan yang beragam.





