Pandeglang, 20 September 2026 – Pencarian lima jurnalis dan tiga awak speedboat Arupadatu I di perairan Selat Sunda berlangsung selama sepuluh hari sebelum operasi SAR gabungan resmi dihentikan pada Kamis, 17 September 2026. Rombongan tersebut hilang kontak ketika melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk kegiatan peliputan. Berbagai unsur dikerahkan sejak hari pertama, mulai dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, kepolisian, Bakamla, hingga instansi dan relawan lainnya. Wilayah pencarian terus diperluas mengikuti perhitungan arus laut serta kemungkinan pergerakan kapal. Operasi dilakukan melalui jalur laut, udara, hingga penyisiran sejumlah wilayah pesisir. Namun, sampai hari terakhir pencarian, keberadaan kapal maupun delapan orang di dalamnya belum ditemukan.
Arupadatu I bertolak dari Dermaga Pagedongan di Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026. Kapal membawa lima jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas, Arie Basuki, Yudistiro Pranoto, Firdaus Wajidi, dan Donal Husni. Tiga orang lainnya adalah Warta yang bertugas sebagai kapten kapal, Surakman sebagai anak buah kapal, serta Heriyanto sebagai pemandu. Rombongan berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas gunung tersebut. Setelah komunikasi dengan rombongan terputus, laporan kemudian diterima petugas dan operasi pencarian mulai digelar pada hari berikutnya. Sejak saat itu, Selat Sunda menjadi pusat operasi pencarian besar yang berlangsung lebih dari sepekan.
Pada tahap awal, tim SAR memusatkan pencarian di sekitar jalur pelayaran Carita menuju Gunung Anak Krakatau. Sejumlah Search and Rescue Unit menggunakan kapal cepat untuk memeriksa sektor-sektor yang telah ditentukan berdasarkan perkiraan posisi terakhir rombongan. Kawasan Pulau Sertung juga menjadi perhatian, tetapi penyisiran langsung menghadapi keterbatasan karena lokasinya berada dekat dengan zona rawan Gunung Anak Krakatau. Tim mencoba melakukan pemantauan menggunakan peralatan optik serta wahana udara. Penggunaan drone sempat dilakukan, tetapi kabut dan asap tebal membatasi jarak pandang. Kondisi tersebut membuat petugas harus terus menyesuaikan pola pencarian dengan perkembangan cuaca dan aktivitas vulkanik.
Memasuki hari-hari berikutnya, area operasi diperluas hingga ke arah mulut Samudra Hindia. KN SAR Tetuka menjadi salah satu armada yang bergerak dari Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, untuk menyisir wilayah dari sekitar Pulau Rakata Besar menuju perairan yang lebih terbuka. Kapal membawa personel gabungan dari sejumlah instansi untuk melakukan pengamatan visual sepanjang jalur pencarian. Tim menggunakan pola creeping line, yakni kapal bergerak bolak-balik secara sistematis agar cakupan penyisiran dapat dilakukan lebih rapat. Pencarian dilakukan hingga puluhan mil laut dari kawasan Rakata Besar. Meski cakupan terus bertambah, petugas belum memperoleh objek yang dapat memastikan keberadaan Arupadatu I maupun rombongan.
Cuaca menjadi salah satu tantangan besar sepanjang operasi. Pada hari ketujuh, kabut tebal dilaporkan membatasi jarak pandang hingga sekitar 1 sampai 1,5 mil laut sehingga pengamatan visual dari kapal tidak dapat dilakukan secara optimal. Kecepatan angin yang cukup tinggi juga memengaruhi penyisiran di beberapa wilayah. Pengerahan unsur udara harus mempertimbangkan kondisi angin serta debu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Meski menghadapi berbagai hambatan, tim gabungan memutuskan melanjutkan pencarian setelah periode tujuh hari pertama berakhir. Operasi diperpanjang selama tiga hari hingga 17 September dengan harapan masih terdapat petunjuk yang dapat mengarah kepada rombongan.
Sejumlah benda sempat ditemukan selama pencarian dan menimbulkan dugaan awal mengenai kemungkinan keterkaitannya dengan kapal yang hilang. Secara keseluruhan terdapat 13 objek yang diperiksa, termasuk life jacket, terpal, helm, dan galon. Setiap benda kemudian diverifikasi dengan melibatkan kepolisian dan pihak terkait untuk membandingkannya dengan perlengkapan Arupadatu I. Hasil pemeriksaan menyatakan seluruh benda tersebut tidak terhubung dengan kapal maupun rombongan yang dicari. Berbagai laporan mengenai objek mengambang yang diterima dari masyarakat juga ditindaklanjuti selama operasi berlangsung. Hingga pencarian berakhir, belum ada satu pun temuan yang dapat dipastikan sebagai bagian dari Arupadatu I.
Skala pencarian mencapai titik terluas pada hari kesepuluh. Area yang disisir mencapai sekitar 8.509 mil laut persegi, meningkat tajam dibandingkan cakupan sekitar 3.439 mil laut persegi pada hari sebelumnya. Sebanyak 523 personel SAR gabungan terlibat dalam operasi melalui jalur darat, laut, dan udara. Sebanyak 24 kapal juga dikerahkan dan wilayah pencarian dibagi menjadi 10 sektor. Armada tersebut berasal dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud, serta unsur pemerintah lainnya. Selain perairan Selat Sunda dan kawasan sekitar Anak Krakatau, koordinasi pencarian diperluas menuju wilayah pesisir Sumatra dan melibatkan unsur SAR di Bengkulu.
Setelah sepuluh hari pencarian tidak menghasilkan tanda keberadaan kapal maupun delapan orang yang hilang, operasi SAR gabungan akhirnya dinyatakan selesai. Penghentian diumumkan Gubernur Banten Andra Soni bersama jajaran Basarnas dan unsur terkait di Posko Utama SAR Gabungan, Carita. Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi menyimpulkan operasi aktif dengan pola yang sama tidak lagi efektif. Meski demikian, penghentian operasi tidak berarti seluruh pemantauan berakhir. Basarnas tetap menyebarkan informasi kepada kapal-kapal yang melintas, sementara TNI AL, Polairud, serta unsur lainnya tetap dapat menindaklanjuti apabila menemukan petunjuk. Operasi SAR juga dapat dibuka kembali sewaktu-waktu jika muncul informasi baru yang telah terkonfirmasi.
Pencarian panjang Arupadatu I memperlihatkan luasnya upaya yang dilakukan untuk menemukan lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut. Selama sepuluh hari, penyisiran berkembang dari sekitar Carita dan Gunung Anak Krakatau hingga ke perairan terbuka menuju Samudra Hindia, pesisir Sumatra, serta wilayah yang dikoordinasikan dengan tim SAR Bengkulu. Puluhan kapal, unsur udara, ratusan personel, serta relawan terlibat dalam operasi, tetapi seluruh petunjuk yang ditemukan belum membawa kepada keberadaan rombongan. Hingga operasi resmi dihentikan, kedelapan orang tersebut masih berstatus hilang. Pemantauan dan penyebaran informasi kepada kapal maupun masyarakat pesisir tetap dilakukan sebagai langkah lanjutan. Apabila kemudian ditemukan tanda keberadaan Arupadatu I atau penumpangnya, Basarnas memastikan informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk kembali membuka operasi pencarian.





