Mataram, 28 Agustus 2026 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat (NTB) memasukkan aspek ketangguhan bencana dalam proses rekonstruksi Dusun Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah. Langkah tersebut dilakukan agar pembangunan kembali kawasan permukiman adat tidak hanya memulihkan kondisi pascabencana, tetapi juga meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Konsep tersebut menjadi bagian penting dalam penataan kembali kawasan karena Dusun Adat Sade merupakan salah satu kawasan permukiman tradisional yang memiliki nilai budaya dan menjadi tujuan wisata di NTB.
Rekonstruksi Tak Sekadar Bangun Kembali
BPBD NTB menilai rekonstruksi pascabencana harus memperhatikan risiko yang mungkin kembali terjadi. Karena itu, pembangunan kembali tidak cukup hanya mengembalikan bangunan seperti kondisi sebelum bencana.
Aspek mitigasi perlu dimasukkan sejak tahap perencanaan, termasuk pemilihan material, konstruksi bangunan, akses evakuasi, serta pengaturan kawasan.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat masyarakat memiliki hunian yang lebih aman tanpa menghilangkan karakter tradisional Dusun Adat Sade.
Pertahankan Karakter Adat
Dusun Adat Sade dikenal dengan rumah tradisional serta tata ruang permukiman yang masih mempertahankan budaya masyarakat Sasak.
Rekonstruksi harus dilakukan secara hati-hati agar peningkatan ketahanan terhadap bencana tidak menghilangkan nilai budaya yang menjadi identitas kawasan.
BPBD NTB bersama pemangku adat dan pemerintah daerah perlu memastikan setiap perubahan tetap selaras dengan karakter arsitektur serta kehidupan masyarakat setempat.
Mitigasi Jadi Bagian Perencanaan
Penerapan konsep tangguh bencana dilakukan dengan mengidentifikasi potensi ancaman di kawasan tersebut. Hasil identifikasi kemudian menjadi dasar untuk menentukan langkah pengurangan risiko.
Selain ketahanan bangunan, jalur evakuasi dan akses bagi kendaraan penanganan darurat juga perlu diperhatikan.
Masyarakat setempat juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut karena mereka merupakan pihak yang paling memahami kondisi lingkungan dan karakter kawasan.
Masyarakat Dilibatkan
BPBD NTB mendorong keterlibatan masyarakat dalam proses rekonstruksi. Partisipasi warga diperlukan agar pembangunan sesuai dengan kebutuhan sekaligus mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Edukasi mengenai kesiapsiagaan bencana juga menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh.
Warga diharapkan memahami tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi bencana serta mengetahui jalur dan titik evakuasi yang telah disiapkan.
Selaraskan dengan Pariwisata
Sebagai kawasan wisata budaya, rekonstruksi Dusun Adat Sade juga perlu mempertimbangkan aspek keselamatan pengunjung.
Fasilitas pendukung wisata harus dirancang dengan memperhatikan potensi risiko bencana. Informasi mengenai jalur evakuasi dan prosedur keselamatan dapat membantu wisatawan maupun masyarakat ketika terjadi keadaan darurat.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat aktivitas pariwisata tetap berkembang tanpa mengabaikan faktor keselamatan.
Bangun Ketahanan Jangka Panjang
BPBD NTB menekankan bahwa rekonstruksi merupakan kesempatan untuk membangun kawasan yang lebih aman dan siap menghadapi bencana.
Konsep build back better menjadi salah satu prinsip yang dapat diterapkan dengan memperbaiki kualitas bangunan, memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, dan meningkatkan sistem mitigasi.
Dengan demikian, proses pemulihan tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga menciptakan ketahanan sosial dan lingkungan.
Budaya dan Keselamatan Berjalan Bersama
Rekonstruksi Dusun Adat Sade diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan kebutuhan pengurangan risiko bencana.
Pemerintah daerah, masyarakat, pemangku adat, serta berbagai pihak terkait perlu bekerja sama agar pembangunan berjalan sesuai karakter kawasan.
BPBD NTB memasukkan aspek ketangguhan bencana dalam rekonstruksi Dusun Adat Sade di Lombok Tengah. Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat keamanan bangunan, kesiapsiagaan masyarakat, jalur evakuasi, serta keselamatan wisatawan tanpa menghilangkan karakter budaya dan arsitektur tradisional masyarakat Sasak.





